Langgan saluran Telegram kami untuk kemaskini berita baharu dan isu terkini. VOCKET

Bek Semen Padang, Dedi Gusmawan, memiliki kisah unik dalam perjalanan karier profesionalnya. Ia merupakan pemain pertama Indonesia yang pernah bermain di Liga Myanmar.

Dedy Gusmawan sempat berkarier di Liga Myanmar selama satu setengah musim, yakni pada 2015-2016. Klub yang dirinya bela ketika itu adalah Zeyar Shwe Myay FC.

Pengalaman Dedi terbilang menarik. Sebab, sangat jarang pemain Indonesia yang berkarier di Myanmar. Pemain Indonesia biasanya lebih memilih bermain di Liga Malaysia atau Liga Thailand.

Terkait pengalaman berbeda tersebut, Dedi mengaku pergi ke Liga Myanmar karena ketika itu kompetisi di Indonesia sedang mati suri karena terkena banned dari FIFA.

Kemudian, Dedi mendapat tawaran juga dari Stefen Hansson. Dia adalah mantan pelatih Mitra Kukar yang menjadi pelatih Zeyar Shwe Myay. Dedi pun merasa tertantang dan langsung memutuskan terbang ke Myanmar.

“Itu dulu mungkin karena ada kedekatan dari pelatih (Stefen Hansson). Dia kontak saya, dia butuh pemain asing Asia. Dia suruh nyoba di tiga pertandingan uji coba,” kata Dedi dalam Youtube Pundittarrrkam.

“Alhamdulillah sih, dia (Stefen Hansson) mau dan manajemen sana mau,” lanjutnya.

“Saya ke sana tantangan saja. Kalau kita pemain asing kan tenaganya harus dobel. Termotivasi juga. Tapi paling utama ya kerja, daripada enggak kerja di rumah, kenapa enggak,” tuturnya menambahkan.

Dedi Gusmawan saat membela Zeyar Shwe Myay FC. (Foto: Facebook/Zeyar Shwe Myay FC).

Dedi Gusmawan saat membela Zeyar Shwe Myay FC. (Foto: Facebook/Zeyar Shwe Myay FC).

Dedi sendiri sangat mendukung jika ada pemain Indonesia yang ingin menjajal Liga Myanmar. Namun, ia mewanti-wanti bahwa gaji di sana tidak setinggi Malaysia dan Thailand.

Selain itu, kehidupan di Myanmar juga cukup berat karena secara makanan dan lingkungan begitu berbeda dengan negara luar Indonesia lainnya, seperti Malaysia dan Thailand, yang sudah maju.

“Kalau memang ada tawaran kenapa enggak. Itu suatu tantangan juga. Kalau Malaysia dan Thailand kan sudah lebih profesional, kita tidak terlalu terbebani,” ujar Dedi.

“Tapi kalau main di liga yang sedang menuju profesional, itu bagaimana cara menyikapinya. Kan tidak mudah. Jadi, itu tantangan tersendiri. Kalau ada pemain Indonesia coba saja, kenapa enggak,” lanjutnya.

“Kalau soal harga mugkin tidak semahal Malaysia dan Thailand. Tapi kalau memang ingin cari pengalaman di luar kemampuan kita, kalau di Malaysia dan Thailand lebih modern, tapi kalau di sana benar-benar tantangan menurut saya,” tutup eks pemain Mitra Kukar itu.

Sebagai informasi, Liga Myanmar saat ini lebih maju dari Liga Indonesia. Menurut ranking terbaru AFC, Liga Myanmar berada di urutan ke-27, sementara Indonesia di peringkat 28.

Baca juga artikel VOCKET FC edisi bahasa Indonesia lainnya yang telah kami sediakan untuk Anda.

Pelatih Timnas Belize Heran Luis Milla Diidolakan Latih Indonesia

Ketua Umum PSSI Akui Sedang Dekati Ruud Gullit Untuk Latih Timnas Indonesia

Belum Terkalahkan, Vietnam Masih Bisa Gagal Lolos Ke Semifinal SEA Games 2019

Anda Mungkin Suka

© 2022 The Vocket Sdn Bhd (1305683-A), a part of Media Prima Group